
Invalid Date
Dilihat 28 kali

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa Molombulahe tersebut dihadiri oleh unsur Pemerintah Desa, BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Puskesmas Paguyaman, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Paguyaman, Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader kesehatan, Kepala Dusun, serta unsur masyarakat dan peserta terkait lainnya.
Rembuk Stunting menjadi ruang bersama untuk membahas kondisi kesehatan ibu dan anak, permasalahan gizi, faktor risiko stunting, serta menyusun langkah dan rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan secara bersama-sama.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Molombulahe, Herianto Manto, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak. Menurutnya, diperlukan kerja sama antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, keluarga, dan seluruh masyarakat.
“Pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa atau tenaga kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Kita harus mulai dari keluarga, memperhatikan kesehatan ibu sejak masa kehamilan, pemenuhan gizi anak, pola asuh, serta memastikan anak-anak mendapatkan pelayanan kesehatan secara rutin.”
Herianto juga menyampaikan bahwa hasil Rembuk Stunting diharapkan tidak berhenti pada kegiatan diskusi, tetapi dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah dan kegiatan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
“Melalui rembuk ini kita ingin mendapatkan gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang ada di desa, kemudian kita rumuskan bersama apa yang dapat kita lakukan. Hasil kesepakatan hari ini harus kita tindak lanjuti sesuai kewenangan dan kemampuan desa serta melalui sinergi dengan pihak terkait.”
Sementara itu, Kepala Puskesmas Paguyaman yang dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Ibu Nur Bilaleya, S.Gz., menyampaikan materi mengenai kesehatan ibu dan anak, masalah gizi, serta strategi pencegahan dan penanganan stunting.
Dalam pemaparannya, Nur Bilaleya menekankan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum anak lahir, terutama melalui perhatian terhadap kesehatan dan gizi ibu selama masa kehamilan.
“Pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan. Ibu hamil perlu mendapatkan pemeriksaan secara rutin, memperhatikan asupan gizi, mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta melakukan pemantauan kesehatan secara berkala.”
Ia juga menjelaskan pentingnya pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI yang bergizi dan sesuai kebutuhan anak, serta pemantauan pertumbuhan bayi dan balita melalui Posyandu.
“Orang tua perlu aktif membawa anak ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan dan pengukuran pertumbuhan. Dengan pemantauan secara rutin, apabila ditemukan adanya masalah pertumbuhan, maka dapat segera dilakukan tindak lanjut dan penanganan.”
Selain faktor gizi, Puskesmas juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, sanitasi yang baik, imunisasi, serta pencegahan penyakit infeksi yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak.
Materi lintas sektor juga disampaikan oleh Kepala KUA Kecamatan Paguyaman, Bapak Jaswadi. Dalam pemaparannya, Jaswadi menyoroti pentingnya membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan memiliki kesiapan dalam menjalankan tanggung jawab pengasuhan anak.
Menurutnya, upaya pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan dan gizi, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi keluarga dan pola pengasuhan.
“Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak. Karena itu, membangun keluarga yang harmonis, memiliki ketahanan keluarga, serta memahami tanggung jawab dalam pengasuhan anak merupakan bagian penting dalam upaya membentuk generasi yang sehat dan berkualitas.”
Jaswadi juga menyampaikan pentingnya kesiapan calon pengantin dalam membangun rumah tangga, termasuk kesiapan fisik, mental, pengetahuan, dan kemampuan menjalankan kehidupan keluarga.
“Kesiapan membangun keluarga harus dipersiapkan sejak sebelum pernikahan. Calon pasangan perlu memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk menjalankan kehidupan rumah tangga, termasuk dalam menjaga kesehatan ibu dan anak serta memberikan pengasuhan yang baik.”
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat pembinaan keluarga dan mencegah perkawinan pada usia anak.
“Kita perlu bersama-sama memberikan edukasi kepada generasi muda dan keluarga agar memahami pentingnya kesiapan dalam membangun rumah tangga. Dengan keluarga yang kuat dan pola pengasuhan yang baik, kita berharap anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.”
Setelah pemaparan dari berbagai pihak, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan identifikasi permasalahan stunting, pembahasan usulan kegiatan, serta penyusunan kesepakatan dan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan kondisi dan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pelayanan Posyandu, pola asuh, sanitasi, serta berbagai faktor yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.
Hasil pembahasan kemudian dirumuskan menjadi bahan kesepakatan bersama dan ditindaklanjuti melalui program serta kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Desa bersama pihak terkait.
Kegiatan Rembuk Stunting Desa Molombulahe Tahun 2026 ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Rembuk Stunting sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting di Desa Molombulahe.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Desa Molombulahe berharap sinergi lintas sektor dan partisipasi masyarakat semakin kuat sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Sehat anaknya, kuat keluarganya, maju desanya.”
Bagikan:

Desa Molombulahe
Kecamatan Paguyaman
Kabupaten Boalemo
Provinsi Gorontalo
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini